Psikolog Cahaya

🧠 Manusia + Kecerdasan Buatan = Solusi Terbaik

Mengapa Saya Semakin Mudah Marah dan Tersinggung di Usia 55 Tahun?

Saya seorang perempuan berusia 55 tahun yang akhir-akhir ini merasa sangat mudah marah dan tersinggung. Hal-hal kecil yang dulu bisa saya abaikan, sekarang membuat saya meledak-ledak. Suara televisi yang agak keras dari kamar anak, suami yang lupa membeli barang belanjaan, atau rekan kerja yang bertanya hal yang sudah jelas, semuanya bisa memicu amarah saya. Saya juga merasa sangat mudah jengkel. Saya sering merasa tegang, tidak sabaran, dan seperti ada sesuatu yang mengganjal di dada. Ledakan amarah ini sering diikuti dengan rasa bersalah dan penyesalan, terutama jika saya membentak suami atau anak-anak. Padahal, saya tahu mereka tidak bermaksud menyakiti saya. Kehidupan saya secara umum baik-baik saja. Saya masih bekerja, keluarga sehat, tetapi beban pekerjaan rumah tangga dan kantor terasa semakin berat. Saya juga mulai merasakan gejala-gejala menopause, seperti panas dingin dan sulit tidur nyenyak. Apakah kemarahan dan iritabilitas yang saya alami ini normal untuk usia saya? Bagaimana cara mengelola emosi ini agar tidak merusak hubungan dengan keluarga dan tidak membuat saya terus-menerus merasa bersalah?

Cahaya

Psikolog dan AI

Ilustrasi seorang perempuan paruh baya yang sedang berusaha menenangkan diri dari ledakan emosi di tengah kesibukan rumah tangga dan kantor, dengan simbol perubahan hormonal dan beban peran ganda.

Halo Rina, terima kasih telah berbagi perasaan Anda. Apa yang Anda alami adalah pengalaman yang umum dan dapat dipahami pada fase kehidupan ini. Perubahan emosional, seperti menjadi lebih mudah marah dan tersinggung, seringkali terkait dengan transisi menopause dan perubahan hormonal yang mempengaruhi regulasi suasana hati, tidur, dan tingkat energi. Gejala fisik seperti hot flashes dan sulit tidur dapat memperburuk kelelahan dan mengurangi daya tahan terhadap stres, membuat hal-hal kecil terasa lebih menjengkelkan.

Selain faktor biologis, beban peran ganda sebagai pekerja dan pengelola rumah tangga yang terasa semakin berat juga merupakan kontributor penting. Akumulasi stres dari tanggung jawab sehari-hari, ditambah dengan kemungkinan adanya ekspektasi terhadap diri sendiri yang tinggi, dapat menciptakan ketegangan yang akhirnya meluap sebagai amarah. Perasaan bersalah setelahnya menunjukkan bahwa ini bukanlah sifat dasar Anda, melainkan reaksi dari kondisi yang sedang Anda hadapi.

Untuk mengelola emosi ini, beberapa pendekatan dapat dipertimbangkan. Pertama, pengenalan pola pemicu sangat membantu. Coba catat kapan dan situasi apa yang paling sering memicu kemarahan. Ini bukan untuk menyalahkan diri, tetapi untuk memahami pola Anda. Kedua, praktik teknik menenangkan diri seketika seperti menarik napas dalam-dalam, berjalan sebentar ke ruangan lain, atau minum air putih saat emosi mulai memanas dapat memberi jeda sebelum bereaksi.

Komunikasi dengan keluarga juga kunci. Memilih waktu yang tenang untuk menjelaskan apa yang Anda rasakan, tanpa menyalahkan, dapat membantu mereka memahami. Anda bisa mengatakan bahwa Anda sedang melalui masa penyesuaian dan meminta dukungan mereka. Mendelegasikan tugas di rumah atau kantor, serta menyisihkan waktu untuk perawatan diri yang sederhana seperti istirahat sejenak, mendengarkan musik, atau berjalan-jalan ringan, adalah investasi untuk keseimbangan emosi Anda.

Jika beban emosi terasa sangat berat, pertimbangkan untuk mencari dukungan profesional psikolog. Konsultasi dengan psikolog dapat memberikan ruang aman untuk mengeksplorasi perasaan Anda dan mengembangkan strategi koping yang lebih personal. Yang Anda alami adalah sinyal dari tubuh dan pikiran bahwa perlu ada perhatian lebih pada kesejahteraan Anda. Dengan kesadaran dan langkah-langkah kecil untuk merawat diri, kondisi ini dapat dikelola sehingga tidak merusak hubungan yang Anda sayangi.

Tidak menemukan jawaban untuk pertanyaan Anda?
Mengobrol dengan Cahaya secara anonim dan gratis untuk percakapan pertama
💬 Ajukan Pertanyaan di Telegram