Psikolog Cahaya

🧠 Manusia + Kecerdasan Buatan = Solusi Terbaik

Sindrom Penipu vs. Diremehkan di Tempat Magang: Apakah Saya Terlalu Sensitif atau Benar-Benar Dihina?

Halo, saya Luna (19), konselor junior di platform ini. Saya baru saja menyelesaikan tahun pertama kuliah psikologi dan sedang magang di sebuah startup yang bergerak di bidang kesehatan mental. Masalah saya adalah: saya merasa seperti penipu di tempat kerja. Setiap kali atasan atau rekan kerja meminta pendapat saya, saya panik karena takut memberi saran yang salah-padahal saya seharusnya sudah belajar tentang ini di kampus. Apalagi, ada satu rekan senior (usia 30-an) yang sering menyela saya dengan kalimat seperti, 'Kamu masih muda, nanti aja mikirin hal-hal rumit kayak gini' atau 'Jangan terlalu serius, ini cuma magang'. Saya merasa diremehkan, tapi di saat yang sama, saya juga meragukan kemampuan diri sendiri. Pertanyaannya: 1. Bagaimana membedakan antara sindrom penipu dengan memang belum kompeten? 2. Apakah saya berhak marah ketika komentar-komentar seperti itu mengganggu produktivitas saya, atau saya hanya terlalu sensitif? 3. Bagaimana cara membangun kepercayaan diri ketika lingkungan kerja justru menguatkan keraguan saya? Catatan: Saya pernah mencoba berbicara dengan atasan tentang hal ini, tapi dia hanya bilang, 'Itu cuma candaan, jangan dipikirkan'-padahal itu terjadi berulang dan membuat saya stres hingga sulit tidur. Mohon saran konkret, bukan sekadar ‘percaya diri aja’, karena saya sudah mencoba dan gagal. Terima kasih.

Cahaya

Psikolog dan AI

Ilustrasi seorang mahasiswi magang psikologi yang cemas di meja kantor dengan rekan senior yang meremehkan, menggambarkan sindrom penipu dan tekanan lingkungan kerja.

Membedakan antara sindrom penipu dan ketidakkompetenan kadang memang sulit, terutama saat kita masih dalam proses belajar dan berkembang. Sindrom penipu biasanya ditandai oleh perasaan tidak layak dan takut ketahuan padahal sebenarnya kemampuan Anda sudah memadai sesuai tahap pembelajaran Anda. Sementara itu, ketidakkompetenan berarti memang ada kekurangan kemampuan yang perlu diperbaiki melalui pengalaman dan pembelajaran lebih lanjut. Dalam situasi Anda, sebagai mahasiswa dan magang, wajar untuk merasa belum sepenuhnya kompeten namun merasa bahwa Anda mampu memberikan kontribusi sesuai kapasitas Anda.

Perasaan marah terhadap komentar yang meremehkan sangat manusiawi dan berhak Anda rasakan karena komentar seperti itu tidak membangun dan malah menurunkan semangat kerja. Perasaan ini bukan berarti Anda terlalu sensitif, melainkan tanda bahwa batasan personal dan profesional Anda perlu dihormati. Anda memiliki hak untuk merasa dihargai dan didukung dalam proses pembelajaran, bukan diperlakukan seolah tidak penting.

Membangun kepercayaan diri di lingkungan yang kurang suportif memang sangat menantang, apalagi jika usaha Anda untuk mencari dukungan tidak direspon dengan baik. Salah satu pendekatan adalah fokus pada kemajuan kecil yang Anda capai setiap hari, mencatat keberhasilan meskipun kecil, dan mengingat bahwa proses belajar memang penuh tantangan. Anda juga bisa mencari mentor lain, teman sejawat, atau komunitas yang bisa memberikan dukungan emosional dan profesional. Jika memungkinkan, komunikasikan kembali dengan atasan atau pihak HR tentang dampak negatif dari perlakuan tersebut dengan bukti konkret dan ajukan permohonan agar lingkungan kerja dibuat lebih kondusif. Perlu diingat bahwa membangun kepercayaan diri tidak hanya soal pikiran positif tapi juga perbaikan keterampilan dan dukungan sosial yang nyata.

Akhirnya, usahakan memperkuat batasan diri dan jangan biarkan komentar merendahkan melemahkan semangat Anda untuk belajar. Jangan ragu mencari sumber daya lain seperti konseling profesional di luar tempat magang jika stres akibat perlakuan ini sudah mengganggu kesehatan mental Anda. Anda pantas mendapatkan lingkungan yang mendukung dan pengalaman magang yang membangun.

Tidak menemukan jawaban untuk pertanyaan Anda?
Mengobrol dengan Cahaya secara anonim dan gratis untuk percakapan pertama