Psikolog Cahaya

🧠 Manusia + Kecerdasan Buatan = Solusi Terbaik

Mengatasi Kilas Balik dan Rasa Bersalah Pasca Menyaksikan Kecelakaan Fatal

Saya seorang pria berusia 59 tahun. Baru-baru ini, saya mengalami peristiwa yang sangat traumatis. Saya menyaksikan kecelakaan mobil yang fatal di depan mata saya, di mana seorang pengendara sepeda motor kehilangan nyawanya. Sejak kejadian itu, saya tidak bisa tidur nyenyak. Setiap kali saya menutup mata, bayangan kejadian itu muncul kembali dengan sangat jelas. Saya menjadi sangat mudah terkejut dan jantung berdebar-debar kencang hanya mendengar suara klakson atau rem mendadak. Saya juga menarik diri dari kegiatan sosial, bahkan dari keluarga. Saya merasa sangat bersalah, terus memikirkan apakah saya bisa melakukan sesuatu untuk mencegahnya. Bagaimana cara mengatasi kilas balik (flashback) yang terus-menerus dan perasaan bersalah yang mendalam ini? Apakah ini normal setelah menyaksikan trauma seperti itu?

Cahaya

Psikolog dan AI

Ilustrasi seorang pria paruh baya yang mengalami kilas balik trauma kecelakaan, dengan simbol penyembuhan psikologis di sekitarnya.

Budi yang baik, terima kasih telah berbagi pengalaman yang sangat berat ini. Apa yang Anda alami adalah reaksi yang sangat manusiawi dan dapat dipahami setelah menyaksikan peristiwa traumatis secara langsung. Perasaan kilas balik (flashback), kecemasan berlebih, perasaan bersalah, dan penarikan diri dari lingkungan sosial adalah respons psikologis yang umum terjadi pasca trauma, yang sering disebut sebagai reaksi stres akut atau gejala awal gangguan stres pasca trauma (PTSD). Penting untuk diingat bahwa apa yang Anda rasakan adalah respon normal terhadap peristiwa yang tidak normal.

Mengatasi kilas balik dan rasa bersalah membutuhkan pendekatan bertahap dan penuh kesabaran. Pertama, cobalah untuk mengakui dan menerima bahwa perasaan ini ada, tanpa menghakimi diri sendiri. Rasa bersalah yang Anda rasakan, meskipin terasa sangat nyata, seringkali merupakan bagian dari proses pikiran mencoba mencari kendali atas situasi yang di luar kendali. Ingatkan diri Anda bahwa Anda adalah saksi dari kecelakaan, bukan penyebabnya. Untuk mengurangi intensitas kilas balik, Anda dapat mencoba teknik grounding saat kilas balik muncul. Fokuskan perhatian pada indra Anda di saat sekarang: rasakan kaki Anda menapak lantai, dengarkan suara di sekitar, atau pegang benda dengan tekstur tertentu. Ini dapat membantu menarik pikiran kembali ke realitas saat ini.

Langkah yang sangat penting adalah mencari dukungan profesional dari psikolog klinis atau konselor trauma. Mereka dapat membantu Anda memproses peristiwa tersebut dengan aman menggunakan pendekatan seperti terapi kognitif perilaku (CBT) yang khusus untuk trauma atau terapi pemrosesan ulang dan desensitisasi gerakan mata (EMDR). Terapi ini efektif untuk mengurangi intensitas kenangan traumatis. Secara bertahap, coba bangun kembali rutinitas harian yang teratur, termasuk waktu makan dan tidur. Aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki juga dapat membantu mengatur sistem saraf. Untuk kecemasan akan suara tertentu, latihan pernapasan dalam dapat menenangkan respons tubuh.

Jangan menghadapi ini sendirian. Meski sulit, cobalah berkomunikasi perlahan dengan anggota keluarga tepercaya tentang apa yang Anda alami. Dukungan sosial adalah faktor penyembuh yang kuat. Hindari penggunaan alkohol atau zat lain untuk mengatasi perasaan, karena ini dapat memperburuk gejala dalam jangka panjang. Proses penyembuhan dari trauma bersifat non-linier, jadi beri diri Anda waktu dan ruang untuk berduka dan pulih. Jika gejala tidak membaik atau malah memburuk setelah beberapa minggu, mencari bantuan profesional menjadi semakin krusial. Anda telah mengambil langkah pertama yang sangat berani dengan mengungkapkan beban ini.

Tidak menemukan jawaban untuk pertanyaan Anda?
Mengobrol dengan Cahaya secara anonim dan gratis untuk percakapan pertama
💬 Ajukan Pertanyaan di Telegram