Cucu 5 Tahun Sering Tantrum Saat Ditinggal Ibu Bekerja, Bagaimana Pola Asuh yang Tepat?

Saya berusia 62 tahun dan telah pensiun. Baru-baru ini, cucu perempuan saya yang berusia 5 tahun sering mengalami ledakan emosi yang hebat, terutama saat ditinggal ibunya bekerja. Dia menangis, berteriak, bahkan melempar mainan. Saya dan istri merasa kewalahan dan bingung harus bersikap tegas atau lembut. Apakah ini termasuk krisis tiga tahun yang terlambat, atau ada masalah lain? Bagaimana cara menenangkan dia tanpa memanjakan?

Cahaya

Psikolog dan AI

Seorang kakek dan nenek dengan tenang memeluk cucu perempuan mereka yang sedang menangis dan melempar mainan, sementara sang ibu berangkat kerja di latar belakang. Gambar menampilkan suasana hangat, validasi emosi, dan rutinitas perpisahan yang konsisten.

Halo Bima, terima kasih atas pertanyaannya. Saya memahami kekhawatiran Anda dan istri melihat cucu perempuan Anda yang berusia 5 tahun sering tantrum, terutama saat ibunya pergi bekerja. Perilaku menangis, berteriak, bahkan melempar mainan adalah bentuk ekspresi emosi yang kuat pada anak usia ini. Pada usia 5 tahun, anak sebenarnya sudah melewati fase krisis tiga tahun, sehingga tantrum yang intens dan berulang bisa menandakan adanya kesulitan emosional yang mendasari, seperti rasa cemas akan perpisahan atau belum memiliki cara yang matang untuk mengungkapkan rasa tidak nyaman. Penting untuk dipahami bahwa tantrum bukanlah sekadar perilaku manja atau mencari perhatian, melainkan sinyal bahwa anak membutuhkan bantuan untuk mengelola emosinya.

Anda bertanya apakah ini termasuk krisis tiga tahun yang terlambat atau ada masalah lain. Krisis tiga tahun biasanya memuncak pada usia 2-3 tahun dan ditandai dengan keinginan kuat untuk mandiri serta mudah frustrasi. Pada usia 5 tahun, tantrum yang masih sering terjadi, apalagi hanya atau terutama saat ditinggal ibu bekerja, lebih mengarah pada kecemasan perpisahan. Anak mungkin merasa tidak aman ketika figur lekat utamanya pergi, dan ledakan emosi adalah caranya memprotes atau mengekspresikan rasa kehilangan. Bisa juga ada faktor lain seperti perubahan rutinitas, kelelahan, rasa lapar, atau kebutuhan akan perhatian yang belum terpenuhi. Namun, karena Anda menyebutkan pola yang jelas terkait kepergian ibu, fokus pada rasa aman dan transisi perpisahan akan sangat membantu.

Mengenai pola asuh yang tepat, Anda dan istri tidak perlu memilih antara tegas atau lembut secara ekstrem. Pendekatan yang paling efektif adalah tegas namun penuh kasih, yaitu menetapkan batasan yang jelas sambil tetap memberikan kenyamanan emosional. Saat cucu Anda tantrum, hindari memarahi atau menghukum dengan keras karena dapat memperparah rasa cemasnya. Sebaliknya, jangan pula langsung menuruti semua keinginannya untuk menghentikan tangisan, karena itu bisa memperkuat perilaku tantrum sebagai cara mendapatkan apa yang diinginkan. Langkah pertama adalah menenangkan diri Anda dan istri terlebih dahulu, karena anak menyerap energi dari orang dewasa di sekitarnya. Dekati cucu Anda dengan tenang, turunkan diri ke level matanya, dan gunakan suara lembut untuk mengatakan bahwa Anda memahaminya, misalnya, “Nenek dan Kakek tahu kamu sedih karena Ibu pergi, tidak apa-apa merasa sedih.” Ini adalah validasi emosi yang penting agar anak merasa didengar.

Setelah anak sedikit lebih tenang, Anda dapat menawarkan pilihan yang terbatas untuk membantunya merasa memiliki kendali, seperti “Kamu mau peluk Kakek dulu atau minum air dulu?” Hindari bertanya “Kenapa kamu menangis?” karena anak usia 5 tahun mungkin belum bisa menjelaskan alasannya. Sebagai gantinya, berikan aktivitas pengalih yang menyenangkan setelah badai emosi mereda, seperti membaca buku bersama, menggambar, atau bermain peran. Yang tak kalah penting adalah membangun rutinitas perpisahan yang konsisten. Sebelum ibu berangkat kerja, lakukan ritual singkat yang dapat diprediksi, misalnya memeluk erat, mencium, lalu melambaikan tangan di jendela. Hindari pergi secara diam-diam karena itu bisa membuat anak merasa ditinggalkan secara tiba-tiba dan meningkatkan rasa tidak aman. Beri tahu anak bahwa ibu akan kembali pada waktu tertentu, dan tepati janji tersebut agar kepercayaan anak tumbuh.

Anda juga perlu memerhatikan kualitas waktu bersama saat ibu tidak ada. Ajak cucu Anda melakukan kegiatan yang melibatkan interaksi hangat, seperti memasak bersama, berkebun kecil, atau bermain balok. Ini membantu anak merasa bahwa kehadiran Kakek dan Nenek juga memberikan rasa aman. Jika tantrum terjadi lagi, tetap konsisten dengan batasan, misalnya dengan mengatakan, “Kakek tidak bisa membiarkan kamu melempar mainan karena itu berbahaya. Kalau kamu masih marah, kita duduk sebentar di sini sampai kamu tenang.” Sikap ini menunjukkan batasan tanpa hukuman fisik atau kata-kata kasar. Jangan ragu untuk memberi pujian spesifik ketika anak berhasil menenangkan diri atau mengungkapkan emosinya dengan cara yang lebih baik, seperti “Terima kasih sudah bilang kamu sedih, itu hebat.”

Jika tantrum berlangsung sangat sering, intens, atau disertai perilaku agresif yang membahayakan, dan tidak membaik setelah beberapa minggu dengan pola asuh yang konsisten, sebaiknya pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog anak guna mendapatkan assessment yang lebih mendalam. Namun, untuk saat ini, fokuslah pada pendekatan yang hangat, konsisten, dan penuh pemahaman. Ingatlah bahwa anak usia 5 tahun sedang belajar mengelola emosi, dan peran Anda sebagai kakek-nenek adalah menjadi pelabuhan yang aman sekaligus pemandu yang tenang. Anda dan istri tidak perlu merasa gagal; tantrum adalah bagian dari perkembangan yang dapat diatasi dengan strategi yang tepat. Semoga penjelasan ini membantu Anda merasa lebih siap dalam menghadapi situasi tersebut.

Tidak menemukan jawaban untuk pertanyaan Anda?
Mengobrol dengan Cahaya secara anonim dan gratis untuk percakapan pertama