Psikolog Cahaya

🧠 Manusia + Kecerdasan Buatan = Solusi Terbaik

Anak 7 Tahun Tiba-tiba Murung dan Menolak Sekolah, Ibu Bekerja Sendirian Bingung Menghadapinya

Saya seorang ibu berusia 38 tahun dengan dua anak, usia 10 dan 7 tahun. Suami saya bekerja di luar kota dan hanya pulang akhir pekan. Selama seminggu, saya mengurus rumah, pekerjaan kantor, dan anak-anak sendirian. Masalahnya, anak bungsu saya (7 tahun) sudah tiga minggu ini mengalami perubahan perilaku yang mengkhawatirkan. Dia yang biasanya ceria dan aktif, sekarang sering murung, mudah menangis, dan menolak pergi ke sekolah. Saat ditanya, dia hanya bilang "nggak mau" atau "capek". Tidurnya juga tidak nyenyak, sering terbangun tengah malam dan datang ke kamar saya. Saya sudah mencoba berbicara baik-baik, menemaninya lebih lama sebelum tidur, bahkan mengajaknya bermain di akhir pekan. Tapi perubahan itu tetap ada. Nilai-nilai sekolahnya juga mulai turun, gurunya melaporkan dia jadi kurang konsentrasi di kelas. Saya merasa sangat bersalah dan khawatir. Apakah ini fase normal anak-anak? Atau ada masalah yang lebih serius yang saya lewatkan? Sebagai ibu yang sebagian besar menghadapi ini sendirian, bagaimana cara terbaik mendekatinya tanpa membuatnya tertekan? Saya takut reaksi saya justru memperburuk keadaan.

Cahaya

Psikolog dan AI

Seorang ibu lelah menghibur anak laki-lakinya yang menangis di malam hari, menggambarkan kesendirian dan beban emosional.

Halo Rina, terima kasih telah berbagi kekhawatiran Anda. Situasi yang Anda hadapi sebagai ibu yang mengelola banyak tanggung jawab sendirian tentu sangat berat, dan perasaan khawatir serta bersalah yang Anda rasakan adalah hal yang wajar. Perubahan perilaku pada anak Anda yang berusia 7 tahun, seperti menjadi murung, menolak sekolah, tidur tidak nyenyak, dan penurunan konsentrasi, memang perlu diperhatikan dengan serius. Meskipun fase perubahan mood bisa terjadi pada anak, durasi tiga minggu dan dampaknya pada aktivitas sehari-hari menandakan bahwa ini mungkin bukan sekadar fase normal yang akan berlalu dengan sendirinya.

Pertama, penting untuk memahami bahwa perilaku anak adalah cara mereka berkomunikasi ketika mereka belum memiliki kata-kata untuk mengungkapkan perasaan yang kompleks. Penolakan sekolah dan perubahan mood bisa menjadi tanda kesulitan emosional yang mendasar. Beberapa kemungkinan penyebabnya antara lain kesulitan di sekolah seperti kesulitan akademik yang spesifik, dinamika sosial dengan teman (misalnya merasa terisolasi atau mengalami perundungan), tekanan dari tuntutan pelajaran, atau kecemasan karena perpisahan dari Anda mengingat ayahnya sering tidak di rumah. Perasaan kehilangan figur ayah dalam keseharian dan beban yang Anda tanggung sendirian juga bisa dirasakan oleh anak, menciptakan kecemasan tersendiri.

Sebagai psikolog, saya menyarankan pendekatan bertahap dan penuh kesabaran. Ciptakan momen-momen komunikasi terbuka dan aman tanpa tekanan. Alih-alih langsung menanyakan masalahnya, Anda bisa mengajaknya berbicara sambil melakukan aktivitas santai bersama, seperti menggambar atau bermain, yang mungkin membuatnya lebih nyaman bercerita. Validasi perasaannya dengan mengatakan bahwa Anda memahami ia mungkin merasa sedih atau lelah, tanpa langsung menyuruhnya untuk berubah. Perhatikan juga rutinitasnya; konsistensi dan rasa aman dalam jadwal sehari-hari sangat penting bagi anak. Memastikan waktu berkualitas yang teratur, meski singkat, bisa lebih berarti daripada jumlah waktu yang panjang tetapi terburu-buru.

Kolaborasi dengan pihak sekolah adalah langkah krusial. Bicaralah dengan guru atau konselor sekolah untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang perilakunya di kelas dan apakah ada perubahan dalam interaksi sosialnya. Mereka mungkin bisa memberikan observasi tambahan yang tidak Anda lihat di rumah. Sementara itu, perhatikan juga kesehatan fisiknya, karena kelelahan atau masalah kesehatan ringan terkadang terwujud sebagai perubahan perilaku.

Untuk Anda sendiri, penting mengakui bahwa dukungan untuk orang tua sama pentingnya. Mengasuh anak sendirian di bawah tekanan dapat menguras emosi. Pertimbangkan untuk mencari jaringan pendukung, baik dari keluarga, teman, atau kelompok orang tua, untuk berbagi beban dan mendapatkan perspektif. Jika perubahan pada anak berlanjut atau semakin mengganggu, konsultasi dengan psikolog anak atau konselor keluarga profesional bisa menjadi pilihan yang sangat baik. Mereka dapat membantu mengeksplorasi penyebab yang lebih mendalam dan memberikan strategi yang sesuai dengan dinamika keluarga Anda. Ingat, mencari bantuan bukan tanda kegagalan, tetapi bentuk tanggung jawab sebagai orang tua.

Reaksi Anda yang penuh kehati-hatian dan keinginan untuk mendekati tanpa menekan sudah menunjukkan kepedulian yang besar. Hindari menyalahkan diri sendiri secara berlebihan. Fokus pada membangun koneksi dan kepercayaan dengan anak Anda. Dengan pendekatan yang tenang, penuh empati, dan dukungan yang tepat, Anda dapat membantunya melewati masa sulit ini dan menemukan akar permasalahannya.

Tidak menemukan jawaban untuk pertanyaan Anda?
Mengobrol dengan Cahaya secara anonim dan gratis untuk percakapan pertama
💬 Ajukan Pertanyaan di Telegram