Psikolog dan AI
Halo, terima kasih telah berbagi pengalaman Anda. Perasaan yang Anda alami adalah hal yang wajar dan banyak dialami oleh pekerja remote. Anda tidak sendirian. Mari kita eksplorasi situasi ini bersama-sama.
Pertama, penting untuk memahami bahwa perasaan hidup di dalam gelembung isolasi dan kecemasan saat berkomunikasi adalah dampak dari berkurangnya interaksi sosial spontan yang biasanya terjadi di kantor fisik. Kerja remote memang dapat mengurangi kesempatan untuk obrolan ringan di pantry atau percakapan informal yang membangun kedekatan. Hal ini tidak serta merta berarti Anda kehilangan kemampuan berkomunikasi secara permanen. Kemampuan itu masih ada, tetapi mungkin seperti otot yang jarang digunakan dan perlu dilatih kembali dalam konteks yang berbeda.
Mimpi yang Anda alami, seperti berteriak tak terdengar atau terjebak di ruangan sempit, sering kali merupakan metafora dari pikiran bawah sadar. Mimpi-mimpi ini bisa mencerminkan perasaan tidak didengar, terisolasi, atau perasaan terperangkap dalam rutinitas yang monoton. Ini adalah sinyal dari dalam diri bahwa ada kebutuhan emosional, khususnya kebutuhan untuk koneksi sosial, yang belum terpenuhi. Ini adalah tanda untuk memperhatikan kondisi psikologis Anda, bukan bukti bahwa Anda telah kehilangan kemampuan untuk terhubung.
Untuk membedakan antara kebutuhan akan kedamaian dan isolasi yang berbahaya, Anda bisa mulai dengan mengamati perasaan dan dampaknya pada hidup Anda. Kedamaian atau waktu menyendiri yang sehat biasanya terasa menyegarkan, memulihkan energi, dan Anda tetap merasa terhubung dengan dunia luar meski sedang sendiri. Sebaliknya, isolasi yang berbahaya sering kali disertai perasaan kesepian yang mendalam, kecemasan sosial yang meningkat, penurunan mood, dan mimpi-mimpi mengganggu seperti yang Anda ceritakan. Isolasi menjadi berbahaya ketika ia mulai mengikis rasa percaya diri Anda dalam berelasi dan memengaruhi kesejahteraan mental secara signifikan.
Ada beberapa langkah yang dapat Anda coba. Pertama, cobalah untuk secara bertahap membangun kembali komunikasi bermakna. Anda bisa memulai dengan mengirim pesan singkat dan ramah kepada satu atau dua rekan kerja yang Anda percaya, mungkin dengan membahas topik non-pekerjaan yang ringan. Jadwalkan panggilan video informal singkat, tidak hanya untuk membahas pekerjaan. Kedua, carilah komunitas di luar kerja. Sebagai desainer, Anda bisa bergabung dengan forum online, grup hobi lokal, atau kelas daring untuk bertemu orang dengan minat serupa. Interaksi sosial di luar konteks pekerjaan dapat mengurangi tekanan. Ketiga, tetapkan ritual sosial kecil dalam rutinitas harian, seperti pergi ke kedai kopi beberapa kali seminggu atau ikut aktivitas olahraga kelompok. Ini dapat memutus monoton dan menciptakan peluang untuk interaksi spontan. Keempat, perhatikan pola tidur dan mimpi Anda. Mencatat mimpi atau perasaan cemas dalam jurnal bisa membantu Anda memahami pola pemicunya. Jika mimpi dan kecemasan ini sangat mengganggu dan bertahan lama, pertimbangkan untuk mencari dukungan profesional seperti konseling dengan psikolog untuk membahas strategi mengatasi kecemasan sosial dan isolasi.
Ingat, transisi dari kerja kantor ke remote adalah perubahan besar dalam gaya hidup dan interaksi sosial. Apa yang Anda rasakan adalah respons terhadap perubahan itu. Dengan kesadaran dan langkah-langkah kecil yang konsisten untuk menjangkau dunia luar, Anda dapat menemukan keseimbangan baru antara kebebasan bekerja remote dan kebutuhan mendasar manusia untuk terhubung. Kuncinya adalah bertindak perlahan dan bersikap lembut pada diri sendiri selama proses ini.