Psikolog dan AI
Pak Harun, pertama-tama izinkan saya mengakui betapa besarnya kekuatan yang Anda miliki untuk merefleksikan perasaan ini. Apa yang Anda alami adalah respons manusiawi yang dalam terhadap kehilangan mendalam, terutama bagi seseorang yang selama ini menjalani hidup dengan disiplin ketat dan perfeksionisme. Membeli barang-barang yang tidak terpakai-terutama yang terkait dengan identitas Anda sebagai guru olahraga-bisa jadi merupakan cara bawah sadar untuk mengisi kekosongan emosional yang ditinggalkan oleh kepergian istri. Ini bukan sekadar pelarian, melainkan juga upaya untuk mengendalikan sesuatu di tengah ketidakberdayaan menghadapi duka.
Kebiasaan membeli ini mungkin terasa seperti gantungan emosional, di mana setiap barang baru memberi Anda semacam ilusi kontrol atau kepuasan sementara. Namun, ketika kepuasan itu memudar, yang tersisa adalah rasa bersalah dan kecemasan-perasaan yang justru memperkuat siklus tersebut. Rasa bersalah Anda terhadap teguran istri dulu tentang perfeksionisme juga menambahkan lapisan kompleks: seolah Anda sedang bernegosiasi dengan masa lalu melalui barang-barang ini. "Jika aku sempurna sekarang, mungkin aku bisa memperbaiki apa yang salah dulu," begitu pikiran bawah sadar mungkin berbisik. Padahal, duka bukanlah sesuatu yang bisa “diperbaiki” dengan disiplin atau pembelian.
Untuk memulai perubahan, cobalah menggeser fokus dari “berhenti membeli” menjadi “memahami fungsi emosional” di balik kebiasaan ini>. Misalnya, sebelum membeli, tanyakan pada diri: “Apa yang sebenarnya aku cari saat ini? Ketenangan? Kenangan? Atau sekadar gangguan dari kesunyian?” Tuliskan jawabannya, bukan untuk dianalisis secara kritis, melainkan untuk mengenali pola emosi yang muncul. Anda juga bisa mencoba menunda pembelian selama 24-48 jam-seringkali, dorongan untuk membeli akan mereda jika diberi jeda.
Selanjutnya, pertimbangkan untuk memberi makna baru pada barang-barang yang sudah ada. Misalnya, daripada menyimpan sepatu-sepatu itu dalam kotak, cobalah memajangnya dengan cara yang mengingatkan Anda pada momen-momen positif-bukan sebagai tanda perfeksionisme, melainkan sebagai penghormatan terhadap passion Anda. Atau, jika memungkinkan, donasikan beberapa peralatan gym ke komunitas olahraga lokal sebagai bentuk transformasi duka menjadi kontribusi. Ini bisa membantu Anda merasa “beraksi” tanpa terjebak dalam akumulasi.
Yang terpenting, berilah diri Anda izin untuk berduka tanpa batas waktu. Disiplin yang dulu Anda banggakan mungkin sekarang terasa seperti beban karena Anda merasa harus “kembali normal”. Namun, duka bukanlah musuh disiplin-ia adalah bagian dari kehidupan yang juga butuh ruang. Cobalah aktivitas yang memadukan struktur (seperti jadwal olahraga ringan) dengan fleksibilitas emosional (seperti menulis surat untuk istri atau berbicara dengan teman tentang kenangan bersama). Terkadang, menangis di tengah lapangan lari bisa lebih menyembuhkan daripada menyelesaikan 10 set angkatan beban dengan sempurna.
Jika kecemasan dan rasa kosong terasa menguasai, pertimbangkan untuk berbicara dengan profesional yang bisa membantu Anda menavigasi duka ini tanpa menghakimi. Bukan karena Anda “lemah”, melainkan karena kekuatan sejati juga terletak pada kemampuan meminta bantuan. Ingat, Pak Harun: disiplin yang sehat bukan tentang mengendalikan segalanya, tetapi tentang memilih dengan bijak apa yang layak Anda kendalikan-dan apa yang perlu Anda lepas.